JellyPages.com
Showing posts with label ilmu pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label ilmu pengetahuan. Show all posts

Tuesday, January 22, 2013

Sekularisasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan


Ada suatu ungkapan yang sangat populer dalam Injil "Berikanlah Kaisar kepada Kaisar dan berikanlah milik Allah kepada Allah". Berdasar ungkapan inilah, menurut sebagian pendapat, terjadi pemisahan total antara gereja dengan negara di dunia Barat. Padahal sesungguhnya ungkapan Al-Masih (Yesus Kristus) dapat dipahami hanya jika diketahui dengan baik kondisi historis ketika itu. Pada saat ungkapan itu dikemukakan oleh Al-Masih, Palestina di bawah kekuasaan Romawi. Dalam situasi demikian, satu-satunya cara seorang tokoh agama adalah berkiprah pada tataran spiritual  keagamaan dan tidak pada politik. Jadi ungkapan dalam Injil tersebut sesungguhnya bertujuan mengendalikan kekuasaan spiritual.
Kenyataan yang terjadi di dunia Barat khususnya dalam hal pemisahan ilmu pengetahuan dari doktrin gereja menyebabkan ilmu pengetahuan berdiri sendiri tanpa kontrol agama dan nilai-nilai spiritual. Hal tersebut terus berlanjut hingga abad modern kini.
Mellenium III merupakan era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang yang disebut abad modern. Asumsi ini diwarnai oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan yng secara teoritis telah ada sebelum abad modern demikian pula penemuan-penemuan baru (discovery) dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi canggih bermunculan dari waktu ke waktu.
Penemuan-penemuan tersebut sangat bermanfaat bagi umat manusia sebagai kontribusi dalam upaya memakmurkan bumi ini. Namun satu hal yang menjadi sentral pembahasan khususnya bagi pemikir-pemikir Islam adalah Islamisasi ilmu pengetahuan.
Sains dan filsafat sudah dikenal sejak awal perkembangan Islam yang memungkinkan arus intelektual di kalangan orang-orang Islam untuk menanggapi pemikir Yunani. Akibat rangsangan itu ternyata mereka lebih kreatif, sehingga  mendorong perkembangan di Eropa. Namun dalam perkembangannya sains dan filsafat mengalami kemunduran di tangan umat Islam.
Sekularisasi dan Islamisasi ilmu pengetahuan masih dalam suasana polemik para ahli. Hal ini disebabkan satu sisi ingin memproduksi ilmu pengetahuan yang obyektif dengan pendekatan santifik sementara di sisi lain kecenderungan ilmuwan muslim agar ilmu pengetahuan lahir dari Islam berdasarkan al-Qur'an dan Hadits, dengan pendekatan teologi normatif (keagamaan).
B. Sekularisasi Ilmu Pengetahuan
Secara ontologis, sekularisasi ilmu pengetahuan berarti membuang segala yang bersifat religius dan mistis, karena dipandang tidak relevan dalam ilmu. Mitos dan religi disejajarkan dan dipandang sebagai pra ilmu yang hanya bergayut dengan intuisi (dunia rasa). Ini berarti bahwa peran Tuhan dan dan segala yang berbau mitos dan bernuangsa gaib sebagai sesuatu yang berpengaruh ditiadakan. Sehingga sekularisasi bisa juga disebut dengan desakralisasi (melepaskan diri dari segala bentuk yang bersifat sakral).
Sekularisme ilmiah memandang bahwa alam ini tidak mempunyai tujuan dan maksud. Karena alam adalah benda mati yang netral. Tujuannya sangat ditentukan oleh manusia. Pandangan ini menyebabkan manusia dengan segala daya yang dimiliki mengeksploitasi alam untuk kepentingan manusia semata.
Sebuah disiplin ilmu juga hendak dipertahankan keobjektifan tujuan maka segala yang terkait dengan agama, pandangan hidup, tradisi dan semua yang bersifat normatif dihindari guna menjaga realitas ilmu sebagai sesuatu yang independen, otonom dan objektif. Hal ini sesuai dengan epistemologi yang digunakan yakni rasionalisme dan empirisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang absah adalah empiris (pengalaman). Sebagai konsekuensi dari epistemologi sekuler maka pada tataran aksiologinya ilmu itu bebas nilai (value free of sciences) atau ilmu netral nilai.
C. Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Islamisasi ilmu pengetahuan lahir sebagai koreksi dari ilmu-ilmu modern yang dihasilkan oleh dunia Barat yang cenderung bebas nilai dari tuntunan wahyu. Secara ontologis, Islamisasi ilmu pengetahuan memandang bahwa realitas alam semesta, realitas sosial dan historis ada hukum-hukum yang mengatur dan hukum itu adalah ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Allah, maka realitas alam semesta tidak netral tapi mempunyai maksud dan tujuan. Hal ini disinyalir dalam firman Allah SWT dalam QS. Al Imran (3): 191
ربنا ما خلقت هذا با طلا
Artinya:
"Ya Tuhan kami Engkau tidak menciptakan ini (alam) dengan sia-sia"
Islamisasi ilmu pengetahuan dalam tataran epistimologinya mengkaji ayat-ayat al-Qur'an karena sebagian ayat al-Qur'an memasuki wilayah kajian empiris dan historis sehingga kebenaran pernyataannya terbuka untuk dibuktikan dan dihadapkan dengan metodologi keilmuan. Bahkan ayat yang pertama turun berkenaan dengan perintah membaca juga segala upaya penelitian ilmiah yang bermaksud mendemonstrasikan revolusi ilmiah (QS. Al-Alaq: 1-5).
m
Islamisasi ilmu pengetahuan secara aksiologi memandang bahwa ilmu pengetahuan itu sarat dengan nilai-nilai moral (moral value) dengan kata lain ilmu itu tidak netral nilai melainkan dalam ilmu pengetahuan itu terkandung nilai-nilai luhur berdasarkan ajaran Islam yang mengkristal pada akar-akar Ilahi.
Seorang sarjana terkemuka yang sangat memperhatikan masalah islamisasi ilmu pengetahuan adalah Ismail Raji al-Faruqi sebagaimana dikutip oleh Ziaduddin Sardan, dalam bukunya Jihad Intelektual.  Mengatakan bahwa ilmu pengetahuan yang sifatnya  dualisme (sistem Islam dan sistem sekuler) harus dihilangkan dan dihapuskan. Dan kedua sistem ini harus digabungkan dan diintegrasikan sementara sistem yang akan muncul harus diwarnai dengan spirit Islam dan berfungsi sebagai bagian integral dari idiologi.
Dengan demikian islamisasi ilmu pengetahuan menjadi penting bagi kita khususnya umat Islam guna mengcounter pengaruh-pengaruh sekularisasi Barat yang bebas nilai.
D. Penutup
Sekularisasi ilmu pengetahuan muncul di dunia Barat yang ditandai dengan adanya pemisahan antara doktrin gereja yang selama ini menguasai ilmu pengetahuan lalu kemudian ilmu pegetahuan itu berdiri sendiri dan bebas dari keterikatan nilai atau norma-norma agama.
Islamisasi ilmu pengetahuan lahir sebagai koreksi dari ilmu-ilmu modern yang dihasilkan oleh dunia Barat yang cenderung bebas nilai dari tuntunan wahyu dan sekaligus merupakan counter terhadap sains modern yang berkembang tanpa menghiraukan nilai-nilai moral yang luhur (bebas nilai) ke arah suatu peradaban dan ilmu pengetahuan yang sarat nilai berdasarkan ajaran Islam (al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW).
Kepustakaan:
Alatas, Syed Farid, 1994. Agama dan Ilmu-ilmu Sosial dalam Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur'an, No. 2 Vol V, h. 41.
Anshari, Endang Saifuddin, 1987. Ilmu Filsafat dan Agama. Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Arkon, Muhammad, 1990. al-Fikr al-Islamiy: Naqd wa Ijtihad. t. tp: Dar al-Saqi.
Azhim, Ali Abdul, 1989. Filsafat al-Ma'arif fi al-Qur'an al-Karim diterjemahkan oleh Khalilullah Ahmas Masjkur Hakim dengan judul Epistemologi dan Aksiologi ilmu Prespektif al-Qur'an. Bandung: Rosdakarya.
Hidayat, Komaruddin, 1996. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hemeneutik. Jakarta: Paramadina.
Idi, Jalauddin dan Abdullah, 1998. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Kattsoff, Louis O, 1992. Element of Philosophy. Diterjemahkan oleh Soejono dengan judul Pengantar Filsafat. Yokyakarta: Tiara Wacana.
Mahmud, Moh. Natsir, 2000. Epistemologi dan Studi Kontemporer. Makassar.
Sardan, Ziaduddin, 1998. Jihad Intelektual: Merumuskan Parameter-parameter Sains Islam. Surabaya; Risalah Gusti.

Pengaruh Kebudayaan Islam di Andalusia (Spanyol) terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Eropa


Pendudukan kaum Muslim atas Spanyol pada abad ke-8 M merupakan jembatan pertama kaum Muslim ke Eropa. Pendudukan ini bahkan dibantu para Uskup Sevilla yang tidak tega membiarkan kebodohan, keterbelakangan, dan kekacauan yang terjadi akibat kekacauan sosial, kerusakan di dalam, dan fitnah golongan. Selanjutnya kaum Muslim menciptakan kestabilan dan keamanan di sana disertai dengan pembangunan dan perkembangan, sehingga Andalusia menjadi daerah di Eropa yang paling kaya dan paling berperadaban.
Kaum Muslimin menundukkan Andalusia pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik, melalui tangan panglima Musa bin Nushair dan Tariq bin Ziyad pada tahun 711 M. Setelah itu Andalusia terus berada di bawah kekuasaan Islam hingga jatuhnya Granada pada akhir kerajaan Islam di Spanyol tahun 1492 M.

Sepanjang sejarah, bangsa Eropa memiliki hubungan pasang surut dengan Islam dan kaum muslimin. Pemerintahan Islam di Andalusia, Spanyol pada abad ke-8 hingga abad ke-15, adalah pemerintahan Islam pertama yang berinteraksi dengan bangsa Eropa. Melalui peradaban Islam di Andalusia, Eropa dapat berkenalan dengan keilmuan periode Yunani dan Romawi Kuno. Perilaku manusiawi dan keadaan jauh dari kekerasan yang ditunjukkan kaum muslimin terhadap kaum Kristen Eropa telah membuka pintu gerbang ilmu dan seni yang mengeluarkan Eropa dari abad kegelapan dan kebodohan selama 10 abad.
Melalui Spanyol, kebudayaan Islam menyentuh negara-negara Eropa. Setelah kemajuan Islam di Spanyol mencapai puncaknya, tumbuh sekolah-sekolah dan universitas yang mengkaji berbagai ilmu pengetahuan. Bahasa Arab menjadi bahsa pengantar di sekolah-sekolah atau di universitas bahkan menjadi bahasa resmi pemerintahan. Akibatnya, hampir tidak ada orang Spanyol Kristen yang tidak mengerti bahasa Arab.
Kemajuan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh sarjana Muslim Arab tersebut mendorong raja Alfonso pada tahun 830 M meminta dua orang sarjana Spanyol Islam untuk menjadi guru besar putera-puteranya dan ahli warisnya. Proses seperti ini kemudian berlanjut, para cendekiawan Barat banyak yang datang belajar ke pusat-pusat ilmu pengetahuan Spanyol Islam seperti di kota Cordoba, Sevilla, Toledo, dan lain-lain.
Ketika terjemahan terhadap berbagai ilmu pengetahuan seperti ilmu filsafat, astronomi, kedokteran, geografi, matematika, dan sebagainya mendapat perhatian serius di Universitas Toledo yang didirikan pada tahun 1130 M, banyak orang Kristen dari berbagai penjuru Eropa datang belajar di universitas tersebut. Cendekiawan Eropa hasil cetakan Universitas Toledo inilah yang tersebar ke seluruh Eropa yang selajutnya meneruskan usaha penerjemahan berbagai ilmu pengetahuan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin.
Ulama Muslim seperti Al-Farabi, Ar-Razy, Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibn Rusyd dan Abul Qasim al-Zahrawi mengarang ribuan buku dalam bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan oleh orang-orang Barat ke dalam bahasa mereka. Di Andalusia, Spanyol yang menjadi pintu gerbang Eropa, Islam menjadi tempat pengembangan budaya dan ilmu pengetahuan. Universitas-universitas Islam dipenuhi mahasiswa untuk menuntut ilmu, sebagian berasal dari negara Italia, Jerman, Perancis, dan Inggris. Kelak merekalah yang mengambil alih pijar ilmu dari Andalusia dan menjadi motor gerakan Renaissance di Eropa.
Gerakan penerjemahan berkembang pesat karena mendapat dukungan raja dan Uskup Gerard Cremenia. Buku-buku yang diterjemahkan adalah karya Ptolemeus, Plato, Aristoteles, Socrates, yang sebelumnya telah diterjemahkan dalam bahasa Arab. Bahasa Arab sendiri dimengerti oleh cendekiawan Eropa yang pernah belajar pada kota-kota pusat ilmu pengetahuan di kerajaan Islam Spanyol. Akhirnya gerakan penerjemahan ini mengantarkan Eropa memasuki babakan baru yang disebut Renaissance.
Dengan kata lain, faktor pendorong Renaissance yang terpenting adalah berasal dari persentuhan antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan Eropa melalui aktivitas penerjemahan buku-buku Islam yang memuat berbagai cabang ilmu pengetahuan. Munculnya cendekiawan Eropa yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan hasil sarjana Muslim dan selanjutnya berhasil mengembangkannya, menjadikan Eropa mencapai puncak kejayaan dalam bidang ilmu pengetahuan.
Menurut J.B. Bury, Barat berhutang budi kepada Islam dalam bidang filsafat rasionalisme. Barat mengenal rasionalisme setelah terjadi gelombang pengaruh intelektual dari dunia Islam pada akhir abad ke-12. Yaitu dengan diperkenalkannya ajaran-ajaran Ibnu Rusyd di kalangan terpelajar di Western Christendom. Para murid Kristen yang selesai belajar ilmu pengetahuan dari filosof Muslim Arab Andalusia (Spanyol) kemudian kembali ke Eropa diangap sebagai kaum revolusioner oleh pendeta-pendeta Kristen di negerinya. Mereka dijuluki kaum revolusioner karena kedatangan mereka membawa perubahan-perubahan besar dan radikal bagi Eropa dan memainkan peran yang sangat besar dalam mencerahkan Eropa yang sedang berada dalam era kegelapan (dark era).
Banyak ilmuwan Eropa yang berusaha mengecilkan sumbangsih Islam itu. Namun dengan tegas, Montgomery Watt menulis dalam The Influence of Islam on Medieval Europe: “Pengaruh Islam terhadap dunia Kristen Barat lebih besar daripada yang disadari. Tugas penting kita bangsa Eropa Barat, ketika kita menuju zaman satu dunia, adalah mengakui sepenuhnya utang kita kepada bangsa Arab dan Dunia Islam.”
Daftar Pustaka:
Suhelmi, Ahmad. 2001. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Syahmuharnis & Harry Sidharta. 2006. TQ Transcendental Quotient Kecerdasan Diri Terbaik. Jakarta: Republika.
Salwasalsabila, Syarifa. 2008. Islam, Eropa & Logika. Yogyakarta: O2
Khadhar, Lathifah Ibrahim. 2005. Ketika Barat Memfitnah Islam. Jakarta: Gema Insani Pers.